Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) – Ada kebanggaan yang tidak berhenti pada
sebuah piala, tetapi tumbuh dalam keberanian murid mengubah rasa ingin tahu
menjadi karya ilmiah. Kamis (01/10/2026), semangat itulah yang mengiringi
keberhasilan Nuning Setianingsih, S.Si., M.Pd., meraih Juara 2 kategori Guru
Dedikatif Madrasah Aliyah (MA) dalam Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan
(GTK) Madrasah Tingkat DIY Tahun 2026 yang diselenggarakan Kantor Wilayah
Kementerian Agama DIY. Prestasi ini menjadi pengakuan atas pengabdian seorang
guru Kimia sekaligus pembina riset yang konsisten menumbuhkan budaya ilmiah di
MAN 2 Yogyakarta.
Bagi Nuning, mendampingi murid meneliti bukan sekadar mengajarkan
langkah-langkah penelitian, melainkan menemani mereka belajar bertanya, menguji
gagasan, menghadapi kegagalan, dan menemukan solusi. Melalui pembinaan Tim
Riset Madrasah, murid didorong mengenali persoalan di sekitar mereka, merancang
penelitian, serta mengembangkan inovasi yang memiliki nilai manfaat bagi
masyarakat. Proses tersebut membangun pengalaman belajar yang mengasah daya
kritis, kreativitas, kejujuran ilmiah, dan tanggung jawab atas setiap karya
yang dihasilkan.
Jejak pengabdian itu terlihat dari pertumbuhan jumlah karya riset murid MAN
2 Yogyakarta yang meningkat dari 6 menjadi 51 karya dalam kurun waktu lima
tahun. Angka tersebut bukan sekadar catatan perkembangan, melainkan gambaran
semakin terbukanya ruang bagi murid untuk mengeksplorasi ide dan mengembangkan
potensi mereka. Di balik setiap karya, terdapat proses pendampingan, ketekunan,
dan kolaborasi yang mempertemukan semangat belajar murid dengan komitmen guru
dalam menghidupkan tradisi penelitian.
Kepala MAN 2 Yogyakarta, Hartiningsih, S.Pd., M.Pd., menyampaikan rasa
syukur dan kebanggaannya atas penghargaan yang diraih Nuning. Menurutnya,
capaian tersebut mencerminkan semangat kolaborasi keluarga besar madrasah dalam
menghadirkan pendidikan berkualitas yang memadukan penguasaan ilmu pengetahuan,
inovasi, dan pembentukan karakter Islami. Keterbatasan sarana dan prasarana pun
tidak seharusnya memadamkan semangat berkarya, melainkan menjadi ruang untuk
menemukan cara-cara kreatif dalam mendampingi tumbuhnya potensi murid.
Penghargaan ini bukanlah garis akhir, melainkan penguat langkah untuk terus
menumbuhkan generasi muda yang berani meneliti dan tekun mencari jawaban.
Dedikasi seorang pendidik menemukan maknanya ketika murid mampu berkembang,
berani mencoba kembali setelah gagal, serta menghasilkan karya yang jujur dan
bermanfaat. Dari ruang-ruang pembinaan riset MAN 2 Yogyakarta, semangat itu
diharapkan terus tumbuh menjadi budaya belajar yang melahirkan generasi
berprestasi, berkarakter, dan siap memberikan kontribusi bagi masyarakat.(nng)