Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) – Kepedulian tumbuh bukan dari banyaknya
kata, melainkan dari kesediaan untuk berbagi dan hadir di tengah masyarakat. Semarak
pengajian yang Mubaligh Hijrah Armiftada (MHA) MAN 2 Yogyakarta bersama warga
Desa Widoro, Giripurwo, Wonosari, Gunungkidul, begitu tampak dengan padatnya warga
di Masjid Al Mutaqarabun. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk merawat
silaturahmi sekaligus menghadirkan makna dakwah yang lebih dekat dengan
kehidupan sehari-hari.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, kemudian dilanjutkan
sambutan Kepala MAN 2 Yogyakarta, Trihartiningsih, S.Pd., M.Pd. Dalam
sambutannya, ia mengapresiasi keterlibatan para siswa dalam kegiatan keagamaan
dan aksi sosial yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Ia berharap MHA
menjadi ruang belajar bagi siswa untuk mengasah kepedulian, membangun kemampuan
bersosialisasi, dan membiasakan diri menghadirkan manfaat di mana pun berada.
Suasana pengajian semakin bermakna melalui penyampaian materi keagamaan
oleh Akmal Alfarizi, panitia MHA sekaligus siswa kelas XII A MAN 2 Yogyakarta,
bersama Puguh Mahardika, S.Pd.I. Kehadiran siswa sebagai salah satu penyampai
materi menjadi pengalaman berharga untuk menumbuhkan keberanian berdakwah
sekaligus belajar menyampaikan nilai-nilai Islam kepada masyarakat. Di hadapan
warga, proses belajar tersebut tidak hanya berlangsung melalui materi yang
disampaikan, tetapi juga melalui perjumpaan, keteladanan, dan kebersamaan.
Malam itu, kepedulian juga hadir dalam bentuk nyata melalui penyerahan
hasil bakti sosial sembako dan bazar baju bekas yang telah dilaksanakan pada
rangkaian kegiatan MHA sebelumnya. Dari kegiatan tersebut, terkumpul dana
sebesar Rp3.000.000, yang diserahkan kepada Tri Tuti Budisantoso, selaku Ketua
Takmir Masjid Al Mutaqarabun. Dana tersebut menjadi wujud gotong royong yang
diharapkan dapat mendukung kemaslahatan masjid dan menguatkan ikatan kepedulian
antara keluarga besar madrasah dengan masyarakat setempat.
Pengajian berlangsung hangat dengan antusiasme warga yang turut
menyemarakkan pertemuan malam itu. Bagi para peserta MHA, perjalanan dakwah ini
bukan sekadar agenda untuk menyampaikan pesan keagamaan, melainkan kesempatan
untuk memahami arti melayani, mendengarkan, dan berbagi dengan tulus. Dari
hasil bazar yang sederhana hingga dana yang disalurkan untuk masjid, MHA
Armiftada menegaskan bahwa dakwah yang menyentuh hati adalah dakwah yang
menghadirkan manfaat dan meninggalkan jejak kebaikan.(cio)
Berikan Komentar