Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) – MAN 2 Yogyakarta terus memperkuat branding sebagai madrasah riset unggulan melalui pembinaan intensif bagi peserta didik yang akan mengikuti Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026. Sebanyak 30 peserta didik yang tergabung dalam 15 tim riset saat ini dipersiapkan untuk berlaga di berbagai ajang penelitian tingkat regional hingga nasional.
Pembinaan
riset tersebut dilaksanakan di aula lantai 3 madrasah pada Jumat (8/5/2026) bersama
guru riset Nuning Setianingsih, S.Si., M.Pd., dan pembimbing tamu Khakam
Ma’ruf, S.Pd. Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan budaya ilmiah yang
selama beberapa tahun terakhir berkembang pesat di lingkungan MAN 2 Yogyakarta.
Para peserta didik mendapatkan pendampingan dalam penyusunan proposal,
metodologi penelitian, pengembangan inovasi, analisis data, hingga teknik
presentasi ilmiah.
Kepala
MAN 2 Yogyakarta Hartiningsih, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa riset telah
menjadi identitas akademik madrasah. Menurutnya, budaya penelitian bukan hanya
diarahkan untuk meraih prestasi, tetapi juga membentuk generasi yang kritis,
kreatif, adaptif, dan mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat melalui
karya ilmiah yang inovatif.
“Madrasah
ingin menghadirkan ruang tumbuh bagi peserta didik agar berani berpikir ilmiah,
melakukan penelitian, dan menghasilkan inovasi yang bermanfaat. Karena itu,
pembinaan riset dilakukan secara berkelanjutan dan terstruktur,” ujarnya.
Komitmen
tersebut terlihat dari perkembangan budaya riset MAN 2 Yogyakarta yang terus
menunjukkan peningkatan signifikan. Hingga Mei 2026, madrasah telah
menghasilkan ratusan karya ilmiah dari berbagai bidang, mulai sains, teknologi,
sosial, ekonomi, lingkungan, hingga keagamaan. Dalam dua tahun terakhir, lebih
dari 60 karya penelitian lahir setiap tahunnya dan berhasil meraih prestasi di
tingkat regional, nasional, bahkan kompetisi internasional.
Perjalanan
budaya riset di MAN 2 Yogyakarta dimulai sejak tahun 2020 dengan jumlah peserta
yang masih sangat terbatas. Saat itu, hanya empat peserta didik pelopor yang
mengikuti lomba karya tulis ilmiah dengan fasilitas sederhana dan referensi
yang minim. Namun, semangat belajar dan konsistensi pembinaan perlahan
membentuk kultur ilmiah yang kuat di lingkungan madrasah.
Seiring
berjalannya waktu, MAN 2 Yogyakarta menghadirkan berbagai inovasi pembinaan,
salah satunya melalui program Intra Riset yang memberi ruang bagi peserta didik
untuk mengenal penelitian sejak dini. Guru-guru pembimbing juga aktif mengikuti
pelatihan penelitian dan publikasi ilmiah sehingga sistem pendampingan semakin
profesional dan terarah.
Menurut
Nuning Setianingsih, keberhasilan budaya riset di MAN 2 Yogyakarta dibangun
melalui kolaborasi yang kuat antara peserta didik, guru pembimbing, pimpinan
madrasah, dan dukungan lingkungan belajar yang kondusif. Ia menilai semangat
penelitian yang tumbuh saat ini menjadi modal penting dalam mencetak generasi
peneliti muda yang unggul dan berkarakter.
Hal
senada disampaikan guru pembimbing Indra, S.Pd., yang mengapresiasi
perkembangan kultur ilmiah di MAN 2 Yogyakarta. Menurutnya, kemampuan peserta
didik dalam menyusun gagasan penelitian dan mengembangkan inovasi sudah
menunjukkan kualitas yang kompetitif untuk level nasional.
Kini,
riset bukan lagi sekadar kegiatan ekstrakurikuler di MAN 2 Yogyakarta,
melainkan telah menjadi bagian penting dari budaya belajar madrasah. Dari
laboratorium sederhana hingga lahirnya puluhan tim peneliti muda menuju OPSI
2026, MAN 2 Yogyakarta terus membuktikan diri sebagai madrasah yang mampu
mengintegrasikan ilmu pengetahuan, kreativitas, dan nilai-nilai keislaman dalam
mencetak generasi masa depan yang unggul dan berdaya saing global. (pusp)
Berikan Komentar