Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Keikutsertaan MAN 2 Yogyakarta dalam Lomba Kebersihan Sekolah Kota Yogyakarta Tahun 2026 tidak dimaknai sekadar sebagai ajang kompetisi. Madrasah ini menjadikan momentum lomba sebagai penguat budaya peduli lingkungan yang telah lama dibangun secara konsisten dan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari warga sekolah.
Ketua
Tim Lomba Kebersihan MAN 2 Yogyakarta, Dra. Khusnul Daroyah, menegaskan bahwa
pembentukan karakter dan kebiasaan peduli lingkungan di madrasah telah berjalan
jauh sebelum adanya lomba. Kepedulian terhadap kebersihan kelas dan lingkungan
madrasah merupakan budaya yang terus dirawat, bukan aktivitas sesaat. “Lomba
ini menjadi sarana refleksi dan penguatan atas praktik baik yang telah berjalan
lama,” ujarnya.
Partisipasi
murid, guru, dan tenaga kependidikan tercatat sangat kuat. Seluruh warga
madrasah aktif memilah sampah, meminimalkan plastik sekali pakai dengan membawa
tumbler dan wadah makan sendiri, menghabiskan makanan, serta menyalurkan sampah
anorganik ke bank sampah. Sampah organik dikelola di sumbernya melalui prinsip
3R (Reduce, Reuse, Recycle) sehingga beban tempat pembuangan akhir dapat
ditekan.
Penguatan
budaya lingkungan juga ditopang oleh peran kader Adiwiyata melalui program
GOKIL (Gotong Royong Keliling) yang berjalan setiap ada agenda madrasah, rapat,
kunjungan tamu, maupun kegiatan murid, untuk memastikan kebersihan dan pilah
sampah tetap terjaga. Program inovatif lain seperti GEMES (Gerakan Memilah
Sampah dari Kelas) dan SMUTLIS (Satu Menit untuk Lingkungan Bersih)
dilaksanakan konsisten setiap hari dengan pendampingan guru, menanamkan
disiplin ekologis sebagai bagian dari proses belajar.
Dalam
konteks lomba, penilaian mencakup delapan aspek sesuai petunjuk teknis, mulai
kebersihan ruang kelas, toilet, halaman, sarana prasarana, pengelolaan sampah,
hingga kesadaran dan partisipasi murid, guru, serta tenaga kependidikan. Bagi
madrasah, indikator tersebut telah menjadi praktik keseharian, bukan sekadar
target penilaian.
Pada
kesempatan presentasi, Umi Solikatun, S.Pd., selaku agen perubahan, memaparkan
praktik baik MAN 2 Yogyakarta sebagai madrasah ekoteologi. Ia menegaskan bahwa
pendekatan ekoteologi menempatkan kepedulian lingkungan sebagai nilai spiritual
dan etis yang menyatu dalam pembelajaran, kebijakan sekolah, serta perilaku
warga madrasah.
Proses
penilaian pada Kamis (06/02/2026), dilakukan oleh tim juri lintas instansi dan profesional, yakni Deni
Sudaryanto, SE, MM.; Drs. Aris Priyanto, M.Or.; Dwi Rina Dewi Sulistyaningsih, S.Pd, M.M.; Febry
Susilawati, S.Pd.; serta Elfa Suroyya, S.Ag, M.Pd.I., M.Pd. Kehadiran juri dari beragam latar belakang
memastikan penilaian berlangsung objektif, komprehensif, dan sesuai standar.
Kepala
MAN 2 Yogyakarta, Hartiningsih, S.Pd., M.Pd., menyampaikan pesan agar budaya
peduli lingkungan terus dirawat sebagai proses pendidikan jangka panjang. Ia
berharap pembiasaan yang telah tumbuh mampu menginspirasi sekolah lain dan
memperkuat kontribusi madrasah bagi lingkungan kota. “Kami ingin murid tumbuh
sebagai pribadi berkesadaran ekologis, mampu mengelola sampah dari sumbernya,
menjaga kebersihan, dan bertanggung jawab terhadap alam,” tuturnya.
Melalui
rangkaian program dan pembiasaan tersebut, MAN 2 Yogyakarta menegaskan bahwa
kepedulian lingkungan bukan agenda sesaat, melainkan gerakan berkelanjutan yang
membentuk karakter, memperkuat spiritualitas, dan menghadirkan dampak nyata
bagi lingkungan. (pusp)
Berikan Komentar