Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) - Menjaga lingkungan bukan sekadar gerakan kebersihan. Di MAN 2 Yogyakarta, kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter sekaligus implementasi nilai-nilai keislaman. Ghirah ekoteologi MAN 2 Yogyakarta diwujudkan dengan mengintegrasikan ajaran agama dengan kesadaran ekologis dalam kehidupan sehari-hari. Aksi nyata tersebut menarik perhatian dua dosen sekaligus dari Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) yang melakukan observasi terhadap praktik kepedulian lingkungan di MAN 2 Yogyakarta pada hari Rabu, (5/8/2026).
Salah
satu hal yang menjadi pusat perhatian adalah pengelolaan limbah bernilai
ekonomis, khususnya minyak jelantah (mijel). MAN 2 Yogyakarta memiliki cara
pandang baru terhadap minyak jelantah yang tersedia melimpah, mengingat lokasi
madrasah di area padat kuliner. Sebagai solusinya MAN 2 Yogyakarta mengedukasi
warga madrasah maupun sekitar madrasah dalam mengelola sampah utamanya mijel.
Umi Solikatun salah satu pengelola Bank Sampah MANDAYA mengatakan bahwa mijel
tidak lagi dipandang sebagai limbah tapi sebagai sumber daya yang masih dapat
diberdayakan. Melalui edukasi dan aksi nyata, warga madrasah diedukasi, dilatih
bahkan kini produk olahan mijel menjadi barang favorit yang diburu pelanggan
saat even pameran salah satunya sabun anti kerak baju “O Cling” produk Kader
Adiwiyata APeL Mandaya.
Ekoteologi
memberikan perspektif bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral dan spiritual
terhadap lingkungan. Alam bukan hanya tempat manusia hidup, tetapi juga bagian
dari ciptaan Allah yang harus dijaga. Nilai ini sejalan dengan semangat Islam
untuk tidak melakukan kerusakan di muka bumi. Sampai dengan tahap ini dua
peneliti UNISNU menyampaikan apresiasi yang tinggi dan membuka peluang lebih
luas untuk mengembangkan praktik ekoteologi madrasah menjadi sebuah gerakan
kolaboratif. Rencana tindak lanjutnya adalah penerjunan mahasiswa UNISNU ke
madrasah untuk berkolaborasi bersama warga madrasah dalam aksi peduli
lingkungan, khususnya pengelolaan limbah minyak jelantah. Kepala Madrasah
Hartiningsih, S.Pd.,M.Pd menyambut gembira program kolaborasi ini mengingat ini
akan makin memastikan kebermanfaatan gerakan ekoteologi MAN 2 Yogyakarta pada
masyarakat luar termasuk dunia perkuliahan. Kolaborasi tersebut diharapkan
tidak sekadar menghasilkan kegiatan seremonial, tetapi menjadi proses pembelajaran
bersama melalui edukasi, penguatan sistem, pemetaan potensi limbah bernilai
ekonomis, edukasi pemanfaatan dan pengelolaan limbah, pengembangan model
pengelolaan berbasis madrasah, penguatan nilai kewirausahaan hijau, dokumentasi
dan publikasi hasil serta kajian potensi pengembangan program berkelanjutan.
Mahasiswa
akan hadir bukan hanya sebagai pelaksana kegiatan, tetapi sebagai mitra belajar
dan agen perubahan. Sementara madrasah menjadi laboratorium nyata untuk
mengembangkan inovasi pendidikan lingkungan berbasis nilai keislaman.
Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa madrasah memiliki potensi besar untuk
menjadi laboratorium pendidikan ekologi berbasis keagamaan. Murid tidak hanya
belajar tentang lingkungan dari buku, tetapi melihat langsung persoalan di
sekitarnya, mencari solusi, melakukan aksi, menghitung manfaat ekonomi, serta
merefleksikannya dalam perspektif keagamaan. Dari sebotol minyak jelantah,
murid dapat belajar tentang tanggung jawab, disiplin, kepedulian, gotong
royong, kewirausahaan, keberlanjutan, dan amanah menjaga ciptaan Allah. (sol)