Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Kepedulian terhadap bencana yang melanda Pulau Sumatera melahirkan sebuah karya sastra reflektif bertajuk “Amarah Bumi Sumatera”. Antologi ini tidak sekadar kumpulan tulisan, melainkan representasi luka, amarah, doa, sekaligus harapan atas peristiwa yang menyisakan duka mendalam bagi masyarakat.
Salah satu kontributor dalam antologi tersebut, Diah Wijiastuti, S.S., yang juga menjabat sebagai Kepala Laboratorium Bahasa MAN 2 Yogyakarta, menghadirkan tulisan berjudul “Meraih Kemuliaan Tanpa Hawa Nafsu”. Melalui karyanya, ia mencoba menyuarakan keprihatinan sekaligus mengajak pembaca untuk melakukan refleksi diri atas berbagai bencana yang terjadi.
Menurut Diah, bencana di Sumatera tidak hanya menimbulkan kerugian material, tetapi juga meninggalkan luka spiritual yang mendalam. Banyaknya korban jiwa serta kerusakan lingkungan menjadi pengingat penting bagi manusia untuk kembali bermuhasabah dan mengevaluasi perilaku terhadap alam.
Ia menegaskan bahwa pada hakikatnya, Tuhan telah menciptakan dunia dengan sempurna. Namun, dalam waktu singkat, keseimbangan tersebut dapat rusak akibat ulah manusia yang dikuasai keserakahan dan hawa nafsu. Karena itu, alih-alih saling menyalahkan, Diah mengajak masyarakat untuk melakukan introspeksi diri.
Dalam tulisannya, ia menekankan bahwa kebenaran merupakan fondasi utama dalam kehidupan manusia. Selama manusia berpegang teguh pada nilai kebenaran, baik dalam berpikir, bersikap, maupun mengambil keputusan, maka perdamaian dan keadilan akan terjaga. Sebaliknya, ketika kebenaran ditinggalkan, hawa nafsu akan mengambil alih dan mendorong manusia pada tindakan yang merusak, termasuk terhadap lingkungan.
Diah juga mengingatkan bahwa kerusakan di muka bumi merupakan konsekuensi dari perbuatan manusia itu sendiri, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum ayat 41. Pesan tersebut menegaskan pentingnya sikap ramah lingkungan dan tanggung jawab moral dalam menjaga keseimbangan alam.
“Manusia yang hidup dalam bimbingan Tuhan akan memiliki arah hidup yang jelas. Dari situlah lahir ketenangan batin, yang pada akhirnya menjauhkan manusia dari keinginan berlebihan untuk memenuhi hawa nafsu,” tulisnya.
Melalui antologi ini, Diah berharap karya sederhana tersebut dapat membuka kesadaran kolektif masyarakat. “Saya mungkin tidak bisa berbuat banyak hal, tetapi setidaknya melalui tulisan ini, mari bersama-sama membuka mata hati, membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan melalui alam, dan terus berbuat baik demi kehidupan yang lebih berkualitas,” ujarnya.
Kehadiran “Amarah Bumi Sumatera” menjadi bukti bahwa sastra dapat berperan sebagai medium refleksi sekaligus seruan moral, terutama dalam merespons krisis kemanusiaan dan lingkungan yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. (Diah Wijiastuti)
Berikan Komentar