Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Di balik angka-angka dan rumus matematika, setiap manusia menyimpan potensi kecerdasan yang berbeda. Bukan sekadar tentang siapa yang paling cepat menghitung atau paling tinggi nilainya, tetapi tentang bagaimana seseorang terus bertumbuh dan menemukan jalan terbaik bagi dirinya. Pesan inilah yang dibagikan Alfi Rahmi, S.Pd., Guru Matematika MAN 2 Yogyakarta, melalui kegiatan literasi di Perpustakaan.
Sebagai Guru yang
aktif meminjam buku di Perpustakaan sekaligus berbagi cerita dari buku yang
dibacanya, Alfi Rahmi, S.Pd. mereviuw buku Sekolahnya Manusia karya Munif
Chatib pada Rabu (23/09/2026) pukul 14.00 WIB di Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta
bersama Pustakawan Nuryanti A. Md.
Dengan cara
bercerita yang cerdas dan komunikatif, Alfi mengangkat salah satu bagian
penting dari buku tersebut, yaitu konsep multiple intelligences atau kecerdasan
majemuk. Menurutnya, kecerdasan manusia tidak hanya dapat dilihat dari
kemampuan intelektual atau akademik. Setiap individu memiliki potensi yang
beragam, seperti kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, linguistik,
bahasa, interpersonal, intrapersonal, musikal, kinestetik, maupun
visual-spasial.
Alfi kemudian mengisahkan
tentang seorang anak yang mengalami kesulitan dalam matematika hingga mendapat
kemarahan dari ibunya. Namun, perjalanan anak tersebut tidak berhenti pada
ketidakmampuannya memahami matematika. Ia terus belajar, berproses, dan
berkembang hingga akhirnya mampu menjadi seorang dokter.
Kisah tersebut
menjadi gambaran bahwa kemampuan seseorang pada satu bidang tidak dapat menjadi
satu-satunya ukuran untuk menentukan masa depannya. Setiap anak memiliki proses
dan potensi yang berbeda.
“Inti dari
kecerdasan bukan hanya tentang bisa atau tidak bisa pada saat ini, tetapi
bagaimana seseorang terus berproses menuju akhir yang terbaik,” ungkap Alfi
Rahmi.
Penjelasan Alfi
mendapat perhatian dari Nuryanti A.Md. Ia mengaku kagum dengan cara Alfi
menghidupkan isi buku melalui cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Terlebih, sebagai seorang Guru matematika, Alfi justru menunjukkan bahwa
pendidikan tidak hanya berbicara tentang angka dan kemampuan berhitung, tetapi
juga tentang melihat manusia secara utuh.
“Saya sangat kagum
mendengarkan penjelasan Bu Alfi. Cara beliau bercerita membuat gagasan tentang
kecerdasan majemuk terasa dekat dan mudah dipahami. Dari sini kita belajar
bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda dan tugas pendidikan adalah
membantu mereka terus berproses menemukan kemampuan terbaiknya,” tutur
Nuryanti.
Kegiatan Literasi
“Baca, Balik, Cerita” menjadi ruang bagi warga MAN 2 Yogyakarta, termasuk Guru,
untuk tidak hanya membaca buku, tetapi juga membagikan gagasan dan pengalaman
yang diperoleh dari bacaan. Melalui rangkaian Pinjam, Baca, Balik, Cerita,
Review, dan Apresiasi, Perpustakaan hadir sebagai ruang bertumbuh, berdiskusi,
dan saling menginspirasi.
Cerita Alfi Rahmi
dari Sekolahnya Manusia memberikan satu refleksi sederhana: setiap orang
mungkin memiliki jalan yang berbeda, tetapi proses untuk terus belajar,
berkembang, dan menemukan potensi terbaik adalah bagian penting dari perjalanan
menjadi manusia. (nur)
Berikan Komentar