Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Komitmen membangun budaya kerja yang bersih, transparan, dan akuntabel kembali ditegaskan oleh MAN 2 Yogyakarta. Madrasah yang telah meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) 2025 ini menjadi rujukan nasional dalam penguatan Zona Integritas dengan menerima kunjungan studi tiru dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Gorontalo, Kamis (09/04/2026).
Rombongan dipimpin oleh Prof. H.C. Dr. Kasmat Sartono, S.Ag., M.Ag., selaku Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Gorontalo, yang hadir bersama Ketua Dharma Wanita Persatuan, Hj. Suriani Yahya, M.Pd. Turut mendampingi, H. Mahmud Bobihu, S.Ag., M.M. selaku Kepala Bagian Tata Usaha, serta Dr. Masjrul Janto Usman, S.Ag., M.Pd. selaku Kepala Bidang Pendidikan Madrasah.
Hadir pula Dra. Hj. Fitriani Humokor, M.Pd.I. selaku Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam. Dari unsur Kementerian Agama kabupaten/kota, turut serta Dr. Hj. Misnawati Nuna, M.Ag. (Kota Gorontalo), H. Iswad Pakaya, S.Ag., M.Si. (Kabupaten Gorontalo), Dr. H. Moh. Docmi Lahmudin, M.Pd. (Gorontalo Utara), H. Hamka Boyola, S.Ag., M.Si. (Boalemo), H. Rais Abaidata, S.Ag., M.Ag. (Pohuwato), dan H. Alwin Toma, S.Ag., M.Si. (Bone Bolango). Kegiatan ini juga diikuti oleh 23 kepala madrasah negeri bersama Kasubbag Tata Usaha serta perwakilan pengawas madrasah.
Mewakili Kepala MAN 2 Yogyakarta, Fajar Basuki Rahmat, S.Ag., dalam sambutannya yang didampingi Wakil Kepala Urusan Kehumasan Rita Setyowati, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa capaian predikat WBK merupakan hasil dari proses panjang yang dimulai sejak tahun 2020. Upaya tersebut dibangun melalui sinkronisasi program strategis madrasah dengan arah kebijakan nasional, serta penguatan berbagai program unggulan.
“Perjalanan ini kami tempuh melalui penguatan akademik, riset, LBCI, keterampilan, KKO, hingga boarding tahfidz. Semua berpadu dalam semangat DIGDAYA sebagai ruh integritas madrasah,” ungkapnya.
Ia menambahkan, keberhasilan 45 persen peserta didik diterima di perguruan tinggi negeri melalui jalur SNBP menjadi bukti nyata bahwa pembangunan Zona Integritas berdampak langsung pada kualitas lulusan.
Kegiatan diawali dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan kalam ilahi, serta sambutan dari tuan rumah dan pihak Kanwil. Momentum penting ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) sebagai bentuk penguatan sinergi antarwilayah.
Pada sesi inti, Umi Solikhatun, S.Pd, memaparkan implementasi Zona Integritas di MAN 2 Yogyakarta secara komprehensif. Paparan mencakup strategi penguatan enam area perubahan, pengelolaan eviden berbasis digital, inovasi layanan terpadu satu pintu (PTSP), hingga penguatan budaya kerja yang melibatkan seluruh warga madrasah.
Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai isu strategis yang diangkat, di antaranya strategi membangun tim Zona Integritas yang solid, optimalisasi evaluasi berbasis e-Kinerja, serta tantangan terbesar pada area pengawasan dan pelayanan publik. Selain itu, peserta juga menggali inovasi digital madrasah, termasuk pengembangan aplikasi layanan, sistem pengelolaan pengaduan, hingga penguatan transparansi melalui dokumentasi eviden dan inovasi.
Sejumlah pertanyaan kritis turut mengemuka, seperti pengelolaan survei kepuasan publik, keterlibatan siswa dalam budaya integritas, mekanisme pelaporan gratifikasi termasuk dari alumni, serta strategi menjaga konsistensi budaya kerja di lingkungan madrasah.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan lapangan untuk melihat secara langsung implementasi berbagai program unggulan, mulai dari sistem layanan PTSP berbasis aplikasi, tata kelola administrasi, hingga praktik budaya kerja yang telah mengakar.
Kunjungan ini menjadi bukti bahwa MAN 2 Yogyakarta tidak hanya bertransformasi secara internal, tetapi juga mampu menjadi pusat pembelajaran bagi madrasah lain di Indonesia. Dengan semangat kolaborasi dan berbagi praktik baik, madrasah ini terus meneguhkan diri sebagai pelopor pembangunan Zona Integritas di lingkungan pendidikan.
Lebih dari sekadar capaian administratif, keberhasilan MAN 2 Yogyakarta menunjukkan bahwa integritas adalah fondasi utama dalam membangun pendidikan yang bermutu. Dari ruang-ruang kelas hingga sistem layanan publik, nilai-nilai kejujuran, profesionalisme, dan akuntabilitas tumbuh menjadi budaya yang hidup, mengantarkan madrasah ini melahirkan generasi unggul, berdaya saing, dan berkarakter kuat. (pusp)
Berikan Komentar