Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Dunia pendidikan terus berkembang seiring dengan tantangan zaman yang semakin kompleks. Sekolah tidak lagi hanya dituntut mencetak peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi juga mampu membentuk karakter, empati, serta kepedulian sosial. Menjawab kebutuhan tersebut, hadir konsep Kurikulum Berbasis Cinta sebagai pendekatan pendidikan yang menempatkan kasih sayang, penghargaan, dan nilai kemanusiaan sebagai fondasi utama dalam proses pembelajaran.
Kurikulum Berbasis Cinta menjadi langkah strategis dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan menyenangkan. Melalui penerapan nilai cinta kepada Allah SWT, sesama manusia, lingkungan, bangsa, serta ilmu pengetahuan, peserta didik diharapkan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlak mulia, serta memiliki jiwa gotong royong. Pendekatan ini dinilai relevan dalam membangun pendidikan yang lebih humanis dan berorientasi pada pembentukan profil lulusan yang utuh.
Konsep ini juga hadir sebagai respons atas berbagai tantangan dunia pendidikan saat ini, seperti menurunnya empati, meningkatnya perilaku intoleran, perundungan (bullying), hingga kekerasan di lingkungan sekolah. Selain itu, lunturnya nilai-nilai moral di kalangan peserta didik menjadi perhatian serius. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga menyentuh dimensi emosional dan spiritual peserta didik.
Sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan kualitas pendidikan, sebanyak 58 guru MAN 2 Yogyakarta mengikuti Pelatihan MOOC PINTAR yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui platform resmi https://pintar.kemenag.go.id/� pada tanggal 22 hingga 28 April 2026.
Kepala MAN 2 Yogyakarta, Hartiningsih, mengapresiasi antusiasme para guru dalam mengikuti pelatihan tersebut. Ia menegaskan pentingnya memahami dan mengimplementasikan materi pelatihan dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.
“Pelatihan ini merupakan langkah penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di madrasah kita. Saat ini, dunia pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik semata, tetapi juga pada pembentukan karakter, akhlak mulia, empati, dan kepedulian sosial peserta didik. Kurikulum Berbasis Cinta hadir sebagai jawaban untuk membangun proses pembelajaran yang humanis, menyenangkan, dan penuh makna. Saya berharap seluruh peserta dapat mengikuti pelatihan ini dengan sungguh-sungguh serta mampu menghadirkan inovasi pembelajaran yang lebih ramah, inspiratif, dan membangun karakter peserta didik,” ungkapnya.
Melalui pelatihan ini, diharapkan para guru mampu mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta secara optimal, sehingga tercipta suasana pembelajaran yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan dalam diri setiap peserta didik. (Diah Wijiastuti)
Berikan Komentar