Membaca dengan Hati, Belajar Mencintai Diri: Deriel Hafiyya Rahmi Ceritakan Malioboro at Midnight di Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta

Deriel Hafiyya Rahmi Meriview Buku Bersama Nuryanti A.Md

Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Membaca bukan sekadar menyelesaikan halaman demi halaman. Bagi Deriel Hafiyya Rahmi, siswi kelas XI H MAN 2 Yogyakarta, membaca adalah perjalanan untuk memahami perasaan, mengambil pelajaran, sekaligus melihat kehidupan dari sudut pandang tokoh yang diceritakan. Hal tersebut terlihat ketika Deriel mereviuw novel Malioboro at Midnight karya Skysphire di Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta, Senin (21/09/2026) pukul 15.30 WIB, bersama Pustakawan Nuryanti A. Md.

Dengan gaya bercerita yang mengalir dan menyentuh, Deriel mengisahkan cerita dalam Malioboro at Midnight yang tidak hanya berbicara tentang perasaan dan hubungan antarmanusia, tetapi juga menghadirkan pergulatan batin tokoh-tokohnya dalam menghadapi keluarga, pilihan, dan rasa suka terhadap lawan jenis.

Menariknya, Deriel mengaku ikut terombang-ambing secara emosional ketika membaca novel tersebut. Ia mencoba menempatkan dirinya sebagai tokoh utama sehingga berbagai konflik, kebingungan, rasa kecewa, maupun harapan yang dialami tokoh terasa begitu dekat dengannya.

“Ketika membaca, saya seperti ikut menjadi tokohnya. Jadi, perasaan saya juga ikut terbawa. Kadang bingung, kadang sedih, dan ikut merasakan apa yang dialami tokoh utama,” tutur Deriel saat menceritakan pengalamannya.

Dari kisah tersebut, Deriel menemukan sejumlah pesan moral yang menurutnya relevan dengan kehidupan remaja maupun keluarga. Salah satunya adalah pentingnya orang tua untuk tidak membeda-bedakan atau pilih kasih kepada anak, karena perlakuan yang tidak adil dapat meninggalkan luka dan memengaruhi perasaan seorang anak.

Bagi remaja, Deriel juga menangkap pesan penting tentang bagaimana menyikapi rasa suka kepada lawan jenis. Menurutnya, perasaan tetap perlu disertai kecerdasan dalam menggunakan logika.

“Kalau suka sama seseorang, jangan sampai bucin. Jangan memberikan perasaan seratus persen kepada orang lain sampai lupa dengan diri sendiri. Kita harus tetap menggunakan logika dan mencintai diri sendiri terlebih dahulu,” ungkapnya.

Cerita Deriel mendapat perhatian dari Nuryanti. Sang pustakawan mengaku tersentuh bukan hanya karena isi novel yang diceritakan, tetapi juga karena Deriel mampu menangkap makna yang lebih dalam dari sebuah bacaan dan menghubungkannya dengan kehidupan nyata.

“Yang menyentuh bagi saya adalah ketika Deriel tidak berhenti pada cerita tentang hubungan dan perasaan. Ia mampu mengambil hikmah tentang keluarga, cara menyikapi perasaan, dan pentingnya mencintai diri sendiri. Itu menunjukkan bahwa membaca dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar memahami kehidupan,” ujar Nuryanti.

Melalui kegiatan Baca, Balik, Cerita, Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta terus mendorong siswa untuk tidak hanya membaca buku, tetapi juga mengembalikan buku setelah selesai dibaca dan menceritakan kembali pengalaman serta pemahaman yang mereka peroleh.

Sebab, sebuah buku akan menjadi lebih bermakna ketika cerita di dalamnya tidak berhenti di halaman terakhir, tetapi berubah menjadi pemikiran, refleksi, dan pelajaran yang dapat dibawa ke dalam kehidupan.

Baca, Balik, Cerita karena membaca bukan hanya tentang mengetahui sebuah cerita, tetapi tentang menemukan makna di dalamnya. (nur)


Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
wa Chat via WhatsApp