Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Dedikasi dan inovasi kembali ditunjukkan oleh Nuning Setianingsih, S.Si., M.Pd., guru kimia MAN 2 Yogyakarta yang tampil sebagai sosok inspiratif dalam ajang kompetisi nasional yang diselenggarakan oleh Indonesia Toray Science Foundation (ITSF). Keikutsertaannya menjadi bukti nyata kontribusi guru madrasah dalam pengembangan pembelajaran sains berbasis riset yang berdampak luas.
Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) merupakan lembaga nirlaba yang berfokus pada pengembangan sains dan teknologi di Indonesia. Melalui berbagai program kompetisi dan penghargaan, ITSF mendorong lahirnya inovasi pembelajaran, memperkuat budaya ilmiah, serta meningkatkan kualitas pendidikan sains di tanah air.
Sebagai guru kimia, guru riset, sekaligus kepala laboratorium IPA, Nuning Setianingsih tidak hanya menjalankan peran pengajaran, tetapi juga menjadi role model dalam pengembangan pembelajaran berbasis inovasi. Dalam ajang tersebut, ia mengangkat inovasi bertajuk pemanfaatan indikator alami asam-basa dari bahan di sekitar.
Inovasi yang dikembangkan memanfaatkan bahan-bahan sederhana seperti kulit buah naga, kunyit, ampas teh, dan kulit bawang merah. Kandungan zat alami seperti antosianin, kurkumin, tanin, dan flavonoid dimanfaatkan sebagai indikator pH yang aman, murah, dan ramah lingkungan. Pendekatan ini selaras dengan konsep green chemistry dan laboratorium aman (green lab), sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis.
Pembelajaran dirancang menggunakan metode Project-Based Learning (PjBL) dengan pendekatan eksperimen kontekstual. Murid diajak melakukan proses ekstraksi sederhana, menguji larutan pada berbagai tingkat keasaman dan kebasaan, hingga melakukan observasi, analisis, serta presentasi hasil. Proses ini tidak hanya memperkuat pemahaman konsep, tetapi juga melatih keterampilan proses sains, kemampuan berpikir kritis, dan kolaborasi.
Melalui inovasi ini, murid tidak hanya belajar teori asam-basa, tetapi juga diajak memahami pentingnya pengelolaan lingkungan serta pemanfaatan limbah organik menjadi sesuatu yang bernilai ilmiah. Pembelajaran menjadi lebih bermakna karena dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kepala MAN 2 Yogyakarta, Hartiningsih, S.Pd, M.Pd menyampaikan apresiasi atas kontribusi Nuning Setianingsih dalam menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, aplikatif, dan inspiratif. Keikutsertaan dalam ajang ITSF ini sekaligus memperkuat posisi MAN 2 Yogyakarta sebagai madrasah berbasis riset yang terus mendorong inovasi dan budaya ilmiah.
Partisipasi ini menjadi bukti bahwa guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai inovator dan penggerak perubahan. Melalui langkah nyata di ruang kelas hingga panggung kompetisi, Nuning Setianingsih menunjukkan bahwa pembelajaran sains yang kreatif dan berkelanjutan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masa depan pendidikan Indonesia. (Nuning Setianingsih_Kimia)
Berikan Komentar