Menapak Jejak Sejarah Kota: STARLing MAN 2 Yogyakarta Dalami Makna Titik Nol Kilometer


Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Kegiatan Studi Akademik dan Riset Lingkungan (STARLing) yang dilaksanakan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Yogyakarta pada Rabu (04/02/2026), difokuskan pada kajian sejarah dan dinamika budaya kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB ini diikuti oleh 47 peserta, terdiri atas 40 murid dan 7 guru pendamping, sebagai bagian dari penguatan pembelajaran kurikulum berbasis kontekstual dan riset lapangan.

Kajian di Titik Nol Kilometer dipandu langsung oleh guru sejarah MAN 2 Yogyakarta, Nurul Zulaikha, S.Pd. Dalam pendampingannya, murid diajak memahami kawasan tersebut tidak sekadar sebagai penanda geografis pusat kota, melainkan sebagai ruang sejarah yang merekam perjalanan Yogyakarta sejak masa kolonial hingga era modern. Titik Nol Kilometer dipaparkan sebagai simpul penting pemerintahan, ekonomi, dan budaya yang membentuk wajah kota Yogyakarta hingga kini.

Melalui observasi langsung di lapangan, murid menelaah bangunan-bangunan bersejarah di sekitar kawasan, mempelajari jejak arsitektur kolonial, serta mendiskusikan perubahan fungsi ruang kota dari masa ke masa. Pendekatan ini mendorong murid untuk mengaitkan fakta sejarah dengan realitas kekinian, sehingga sejarah tidak dipahami sebagai peristiwa yang terpisah dari kehidupan sehari-hari, melainkan sebagai proses yang terus berlanjut.

Pembelajaran di Titik Nol Kilometer berlangsung secara dialogis dan reflektif. Murid didorong untuk aktif bertanya, menyampaikan pendapat, serta menyusun kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi. Kegiatan ini sekaligus melatih keberanian berpikir kritis dan kemampuan mengemukakan gagasan secara akademik di ruang publik.

Para murid mengaku memperoleh pengalaman belajar yang berkesan. Salah seorang murid menyampaikan bahwa belajar sejarah langsung di Titik Nol Kilometer membuat pemahaman tentang kota Yogyakarta menjadi lebih utuh. “Kami bisa melihat langsung bukti sejarah dan memahami bagaimana ruang kota memiliki cerita panjang yang memengaruhi kehidupan masyarakat hingga sekarang,” ujarnya.

Kepala MAN 2 Yogyakarta, Hartiningsih, S.Pd, M.Pd menyampaikan bahwa pembelajaran berbasis lokasi bersejarah merupakan bagian penting dari penguatan karakter dan literasi murid. Menurutnya, kegiatan STARLing di Titik Nol Kilometer diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran sejarah, kecintaan terhadap kota, serta sikap kritis murid dalam memaknai perubahan sosial dan budaya. “Sejarah akan lebih bermakna ketika dipelajari langsung di ruang hidupnya,” tuturnya.

Dari sisi pelaksanaan, kegiatan STARLing berada di bawah koordinasi Nur Suciowati ,S.HI., sebagai penanggung jawab kegiatan. Lembar instrumen kegiatan (LJK) disiapkan oleh Nurul Zulaikha bersama Indra Ristanta, S.Hum untuk memandu murid melakukan observasi dan refleksi lapangan. Kegiatan ini juga didampingi guru Srimarlina, M.A dan Firda Nandara, S.Pd.

Melalui pendalaman kajian di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, MAN 2 Yogyakarta menegaskan komitmennya menghadirkan pembelajaran sejarah yang hidup, kontekstual, dan bermakna. STARLing menjadi ruang belajar yang menempatkan kota sebagai buku terbuka, sekaligus membekali murid dengan kesadaran sejarah, identitas kebangsaan, dan tanggung jawab sebagai generasi penerus bangsa. (pusp)


Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
wa Chat via WhatsApp