Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) - Membangun budaya literasi tidak selalu dimulai dari program besar. Di Kelas XI.D, pada Jumat (24/07/2026), langkah sederhana seperti menata ruang kelas, merapikan pojok baca, dan menetapkan target membaca menjadi fondasi penting dalam menumbuhkan keterampilan yang dibutuhkan generasi abad ke-21.
Didampingi Wali Kelas Suprimadyo, S.Pd. dan Ida Puspita, M.Pd.Si., murid Kelas XI.D mengikuti kegiatan literasi yang diinisiasi oleh perpustakaan Mandaya. Seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk menjadikan ruang kelas bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga ruang yang menghidupkan budaya membaca, berdiskusi, berpikir kritis, dan belajar sepanjang hayat.
Kegiatan diawali dengan merapikan almari dan menata kembali pojok baca kelas. Buku-buku disusun berdasarkan kategori, ruang baca ditata agar lebih nyaman, serta lingkungan kelas dibuat lebih representatif untuk mendukung proses pembelajaran. Pojok baca dipandang bukan sekadar pelengkap fasilitas kelas, melainkan sebagai ruang inspirasi yang mendorong murid menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, guru pendamping mengajak murid berdiskusi mengenai Literasi dan Keterampilan Abad ke-21. Dalam sesi ini, murid diajak memahami bahwa literasi pada era modern tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami informasi, menganalisis berbagai sumber secara kritis, berkomunikasi secara efektif, berkolaborasi, berkreasi, serta memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab. Kompetensi tersebut menjadi bekal penting untuk menghadapi tantangan dunia pendidikan, dunia kerja, maupun kehidupan bermasyarakat yang terus berkembang.
Sebagai tindak lanjut, setiap murid diminta menentukan target buku yang akan dibaca selama bulan Agustus melalui Google Form yang disediakan perpustakaan. Penetapan target bacaan ini merupakan bentuk komitmen pribadi agar kegiatan membaca tidak berhenti sebagai rutinitas sesaat, tetapi menjadi kebiasaan yang terencana dan berkesinambungan. Dengan memilih sendiri buku yang akan dibaca, murid belajar menetapkan tujuan, mengelola waktu, membangun disiplin, serta bertanggung jawab terhadap proses belajarnya.
Kepala Perpustakaan, Sri Narwanti, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi semangat murid dan guru pendamping dalam menghidupkan budaya literasi di kelas. Menurutnya, keberhasilan Gerakan Literasi Sekolah/Madrasah tidak hanya diukur dari banyaknya koleksi buku, tetapi dari tumbuhnya kebiasaan membaca yang dilakukan secara sadar dan berkelanjutan.
"Literasi adalah fondasi lahirnya generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Melalui penataan pojok baca serta penetapan target bacaan, kami berharap setiap murid tidak hanya gemar membaca, tetapi juga mampu memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi menjadi pengetahuan yang bermanfaat. Budaya literasi yang tumbuh di kelas hari ini merupakan investasi bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan," ujar Sri Narwanti.
Kegiatan literasi di Kelas XI.D menunjukkan bahwa transformasi pendidikan dapat dimulai dari ruang kelas. Ketika guru hadir sebagai fasilitator, perpustakaan menjadi pusat penggerak literasi, dan murid diberi kesempatan menentukan target belajarnya sendiri, proses pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Semangat yang dibangun di Kelas XI.D sejalan dengan visi pendidikan Indonesia untuk melahirkan generasi pembelajar yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki karakter kuat, kemampuan berpikir tingkat tinggi, adaptif terhadap perubahan, dan siap berkontribusi dalam masyarakat.
Dari sebuah pojok baca yang tertata rapi, tumbuh harapan besar bahwa setiap lembar buku yang dibaca akan melahirkan gagasan, karakter, dan masa depan yang lebih baik. Sebab, literasi bukan sekadar program sekolah, melainkan budaya yang menumbuhkan pembelajar sepanjang hayat. (pusp)
Berikan Komentar