Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Penguatan moderasi beragama menjadi salah satu pesan utama dalam kegiatan Mandaya Champions Camp (MCC) MAN 2 Yogyakarta yang digelar pada Senin (11/5/2026) di aula hotel Griya Persada Kaliurang. Perhelatan digelar sebagai upaya menyatukan energi dan strategi untuk melejitkan delegasi Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat kabupaten hingga nasional, sekaligus mengembangkan talenta peserta didik di bidang riset, olahraga, seni budaya, dan keagamaan sebanyak 103 murid berdasarkan seleksi.
Dalam
kegiatan tersebut, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agama
DIY, H. Sidik Pramono, M.SI, menegaskan bahwa prestasi dan kecerdasan harus
berjalan seiring dengan pemahaman keagamaan yang moderat. Menurutnya, persoalan
terbesar bukanlah keberagaman agama, melainkan pemahaman yang tidak moderat
dalam memaknai agama itu sendiri.
“Lebih
berbahaya orang beragama tetapi tidak memiliki pemahaman moderat dibandingkan
orang yang tidak beragama. Semua agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan.
Ketika dipahami dengan baik, agama akan menjadi kekuatan luar biasa bagi
peradaban,” ungkapnya di hadapan peserta MCC, didampingi Kepala MAN 2
Yogyakarta Hartiningsih, S.Pd, M.Pd dan Kepala Tata Usaha Isti Wahyuni, SE, MM.
Ia
menjelaskan, Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kota pendidikan telah menjadi
miniatur Indonesia. Ribuan pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah datang
dengan latar belakang budaya, bahasa, suku, dan agama yang berbeda. Namun,
keberagaman tersebut justru mampu dirawat menjadi harmoni sosial yang kuat.
Menurut
Sidik Pramono, masyarakat Yogyakarta memiliki tradisi keterbukaan dan
rasionalitas dalam menyelesaikan persoalan. Keberadaan Keraton Yogyakarta juga
dinilai memiliki peran besar dalam melebur berbagai perbedaan budaya sehingga
tidak berkembang menjadi konflik sosial.
“Indonesia
memiliki lebih dari 1.300 suku bangsa, ratusan bahasa daerah, dan ribuan pulau.
Heterogenitas yang tidak dikelola dengan baik bisa berakibat fatal. Karena itu,
kota pendidikan seperti Yogyakarta membutuhkan pemahaman moderasi beragama yang
kuat,” jelasnya.
Dalam
pemaparannya, ia juga menyinggung berbagai konflik dunia yang berlarut-larut
akibat persoalan agama dan identitas. Ia mengingatkan bahwa pemahaman agama
yang ekstrem dapat melahirkan tindakan kekerasan yang bertolak belakang dengan
nilai luhur agama itu sendiri.
Sidik
Pramono mencontohkan kisah sejarah Islam, termasuk tragedi wafatnya cucu
Rasulullah SAW, Sayidina Husein, sebagai bukti bahwa pemahaman keagamaan yang
keliru dapat melahirkan tindakan tragis bahkan dilakukan oleh sesama umat
beragama. Ia juga mengaitkannya dengan fenomena bom bunuh diri yang pernah
terjadi di Indonesia akibat pemahaman jihad yang disalahartikan.
“Masalah
agama bukan masalah fisik, tetapi masalah cara memahami agama. Jihad yang
dipahami secara salah akan melahirkan tindakan yang salah pula. Tidak mungkin
tindakan pembunuhan dibenarkan atas nama surga,” tegasnya.
Melalui
MCC, MAN 2 Yogyakarta tidak hanya mempersiapkan peserta didik menjadi generasi
unggul dalam akademik dan kompetisi, tetapi juga membangun karakter kebangsaan,
toleransi, dan moderasi beragama sebagai fondasi utama menghadapi tantangan
masa depan. (pusp)
Berikan Komentar