Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Kamis (15/01/2026), MAN 2 Yogyakarta melaksanakan Panen Raya Budidaya Ikan dalam Ember (Budikdamber) sebagai bagian dari Program Peduli Lingkungan Hidup (PLH) yang terintegrasi dalam penguatan kokurikuler madrasah. Kegiatan ini menjadi ruang belajar nyata bagi peserta didik untuk menghubungkan pengetahuan kelas dengan praktik kehidupan, sekaligus menumbuhkan karakter peduli lingkungan dan jiwa kewirausahaan.
Budikdamber
dipilih sebagai wahana kokurikuler karena relevan dengan isu keberlanjutan,
mudah diterapkan di lingkungan madrasah, dan memiliki nilai edukatif yang utuh.
Melalui proses menyiapkan media tanam, merawat ikan lele, menjaga kualitas air,
hingga memanen hasil, peserta didik belajar lintas kompetensi: sains terapan,
pengelolaan lingkungan, kerja tim, dan tanggung jawab. Hasil panen dimanfaatkan
secara produktif untuk pembelian bibit baru dan pengembangan Budikdamber
berkelanjutan, sebuah praktik ekonomi sirkular yang mengajarkan keberlanjutan
usaha sejak dini.
Kepala
MAN 2 Yogyakarta, Hartiningsih, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa penguatan
kokurikuler harus menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual dan
berdampak. Menurutnya, Budikdamber bukan sekadar proyek lingkungan, tetapi
sarana pembentukan karakter dan kompetensi hidup. “Melalui kokurikuler, peserta
didik belajar dari proses. Mereka berlatih merencanakan, merawat, mengevaluasi,
dan mengambil keputusan, itulah esensi pembelajaran bermakna,” ujarnya. Ia
berharap kegiatan serupa terus dikembangkan agar madrasah menjadi laboratorium
kehidupan yang menumbuhkan kepedulian dan kemandirian.
Dari
sisi tata kelola, Kepala Tata Usaha MAN 2 Yogyakarta, Isti Wahyuni, S.E., M.M.,
menekankan pentingnya keberlanjutan program melalui dukungan sistem dan
kolaborasi warga madrasah. Didampingi staf kurikulum Nur Khasanah, S.Pd., ia
menyampaikan bahwa penguatan kokurikuler perlu dirancang selaras dengan
perencanaan pembelajaran agar manfaatnya terukur dan berkelanjutan.
Pendampingan lapangan dilakukan oleh guru pembina duta lingkungan Khusnul Daroyah, Dra., yang menjelaskan bahwa Budikdamber efektif menanamkan literasi ekologis. Peserta didik dilatih peka terhadap keseimbangan ekosistem, disiplin dalam perawatan, serta memahami konsekuensi dari setiap tindakan terhadap lingkungan. “Anak-anak belajar bahwa merawat lingkungan membutuhkan kesabaran dan konsistensi,” tuturnya.
Penguatan
aspek kewirausahaan dipandu oleh guru kewirausahaan Hitaqi Millata, S.Pd. Ia
menekankan bahwa pemanfaatan hasil panen untuk membeli bibit dan memperluas
unit Budikdamber merupakan praktik pembelajaran usaha yang konkret. Peserta
didik diperkenalkan pada konsep perputaran modal, pengelolaan hasil, pencatatan
sederhana, dan perencanaan pengembangan. “Kewirausahaan yang baik tidak hanya
mencari untung, tetapi memastikan keberlanjutan dan manfaat sosial,” jelasnya.
Dengan
Panen Raya Budikdamber ini, MAN 2 Yogyakarta menegaskan arah penguatan
kokurikuler yang menyatu dengan PLH dan kewirausahaan. Kegiatan tersebut
menghadirkan pembelajaran yang hidup, mengasah pengetahuan, sikap, dan
keterampilan, serta menumbuhkan generasi yang peduli lingkungan, kreatif, dan
berdaya saing melalui praktik nyata yang berkelanjutan. (pusp)
Berikan Komentar