Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) - Ada yang berbeda dengan suasana ruang perpustakaan MAN 2 Yogyakarta pada Kamis, 4 Juni 2026. Tempat yang biasanya identik dengan keheningan dan tumpukan buku, kini bertransformasi menjadi ruang diskusi yang hangat dan penuh motivasi. Nuryanti, pustakawati perpustakaan MAN 2 Yogyakarta tidak hanya mengajak murid membedah isi buku melalui kegiatan review, tetapi juga menyisipkan ruang konsultasi religi, emosional dan perencanaan masa depan bagi para siswa.
Dalam kegiatan yang dikemas dalam Program Literasi bertajuk Baca Balik Cerita, Nuryanti tampak telaten mendengarkan presentasi dari Akhsan Farabi Hadly, murid kelas XI C mengenai buku “Selamat Tinggal” karya Tere Liye yang telah dibacanya. Uniknya, diskusi tidak berhenti pada sinopsis atau penilaian objektif buku saja. Memanfaatkan momentum kedekatan tersebut, pustakawati yang dikenal lemah lembut ini secara interaktif menyisipkan nasihat kehidupan yang sangat relevan dengan dunia remaja.
Salah satu topik menarik yang hangat diperbincangkan di sela-sela review buku tersebut adalah tentang pengelolaan emosi ketika seorang remaja mulai tertarik pada lawan jenisnya. Menanggapi dinamika psikologis remaja, petugas perpustakaan cantik ini memberikan tips bijak mengenai cara menjaga hati ketika mulai tumbuh rasa cinta kepada seseorang.
"Mencintai itu fitrah, namun yang paling penting adalah bagaimana kita mengelola rasa tersebut agar tetap positif, tidak mengganggu fokus belajar, dan terhindar dari hal yang dilarang Allah SWT. Jaga hati dengan kesibukan yang bermanfaat, batasi ekspektasi, dan jadikan rasa kagum itu sebagai motivasi untuk memperbaiki diri," ujar Nuryanti.
Tidak hanya menyentuh sisi emosional, sesi diskusi ini juga membekali murid dengan langkah konkret dalam menatap masa depan. Nuryanti membagikan trik dan strategi menyusun rencana hidup (life mapping), mulai dari mengenali potensi diri, menentukan target jangka pendek dan panjang, hingga cara konsisten mengejar cita-cita. Tak lupa beliau berpesan agar Akhsan selalu menuliskan semua rencana yang ingin dicapainya pada buku atau poster yang selalu bisa dilihatnya setiap saat.
Selama mengikuti sesi ini, Akhsan Farabi Hadly terlihat sangat antusias. Ia mengaku aktivitas seperti ini membuat perpustakaan menjadi tempat yang sangat dirindukan, bukan lagi ruang yang kaku atau membosankan.
“Kegiatan inovatif ini diharapkan dapat terus berjalan secara konsisten. Melalui pendekatan literasi berbasis bimbingan personal ini, perpustakaan sekolah membuktikan perannya bukan sekadar gudang buku, melainkan inkubator yang siap membentuk karakter dan masa depan generasi muda yang cerdas sekaligus bijaksana”, kata Nuryanti. (Imroatus S)
Berikan Komentar