Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Kisah tentang keberanian menghadapi rasa takut menjadi hal yang paling berkesan bagi Rachmadi Is Dammary, siswa kelas XII F MAN 2 Yogyakarta, setelah membaca buku Penunggang Layang-Layang. Pengalaman tersebut ia bagikan dalam program literasi “Baca, Balik, Cerita” di Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta, Rabu (09/09/2026) pukul 12.30 WIB bersama Pustakawan MAN 2 Yogyakarta, Nuryanti A. Md.
Rachmadi
mengulas buku Penunggang Layang-Layang yang mengisahkan kehidupan Suku Penakluk
Angin, sebuah suku nomaden yang hidup dengan menggembalakan hewan ternak. Dalam
cerita tersebut terdapat Tetukong, anak ketua suku yang masih berusia 13 tahun.
Meskipun berasal dari keluarga pemimpin suku, Tetukong memiliki ketakutan
terhadap ketinggian sehingga belum mampu menunggangi layang-layang seperti
anggota sukunya yang lain.
Ketakutan
Tetukong menjadi tantangan yang harus Ia hadapi. Dukungan dan motivasi dari
sang Ibu perlahan menumbuhkan keberanian dalam dirinya untuk mencoba dan tidak
terus-menerus dikuasai rasa takut.
Rachmadi
mengatakan dirinya merasa seru, penasaran, dan ikut terbawa suasana saat
membaca cerita tersebut. Ia tertarik mengikuti perjalanan Tetukong dalam
menghadapi ketakutannya. Menurutnya, cerita menjadi semakin menarik karena
menggambarkan perjuangan seorang anak untuk mengatasi rasa takut dan berusaha
menjadi lebih berani.
“Ceritanya
seru dan menarik. Saya merasa penasaran mengikuti bagaimana Tetukong menghadapi
rasa takutnya,” ujar Rachmadi.
Dari
bacaan tersebut, Rachmadi menemukan pesan moral bahwa setiap orang pasti
memiliki rasa takut, tetapi rasa takut tidak seharusnya menjadi alasan untuk
berhenti mencoba. Menurutnya, seseorang perlu terus berusaha, tidak mudah
menyerah, dan berani menghadapi tantangan meskipun harus dilakukan secara
bertahap.
“Pesan
yang saya dapat adalah kita harus terus berusaha, tidak mudah menyerah, dan
berani menghadapi rasa takut,” ungkapnya.
Pustakawan
MAN 2 Yogyakarta, Nuryanti A. Md, mengaku sangat tertarik dengan isi cerita
yang disampaikan Rachmadi. Menurutnya, kisah Tetukong tidak hanya menawarkan
petualangan yang menarik, tetapi juga menghadirkan nilai tentang keberanian,
perjuangan, dan pentingnya dukungan keluarga.
“Saya
sangat tertarik dengan ceritanya karena Tetukong digambarkan memiliki
ketakutan, tetapi Ia tidak berhenti berusaha. Dukungan dari Ibunya juga
menunjukkan bahwa orang-orang terdekat dapat memberikan kekuatan kepada
seseorang untuk menghadapi ketakutannya,” kata Nuryanti.
Menurut
Nuryanti, cerita tersebut relevan dengan kehidupan siswa. Setiap siswa tentu
memiliki tantangan atau hal yang membuat mereka merasa takut dan ragu. Melalui
kisah Tetukong, siswa dapat belajar bahwa keberanian tidak selalu berarti tidak
memiliki rasa takut, melainkan kemauan untuk tetap mencoba meskipun merasa
takut.
Kegiatan
berbagi pengalaman membaca ini menjadi bagian dari program “Baca, Balik, Cerita”
di Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta. Program tersebut mengajak siswa tidak hanya
membaca buku, tetapi juga memahami isi bacaan, menemukan pesan yang terkandung
di dalamnya, kemudian menceritakan kembali pengalaman dan pemikiran mereka
setelah membaca.
Melalui
kegiatan tersebut, buku tidak berhenti sebagai bacaan, tetapi menjadi ruang
bagi siswa untuk belajar, berefleksi, dan menemukan nilai-nilai kehidupan dari
setiap cerita yang mereka baca. (nur)
Berikan Komentar