Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — MAN 2 Yogyakarta menggelar Rapat Kerja (Raker) Tahun 2026 sebagai momentum strategis untuk melakukan evaluasi, refleksi, sekaligus menyusun arah kebijakan dan program pengembangan madrasah pada tahun mendatang. Kegiatan yang melibatkan seluruh unsur pimpinan, guru, tenaga kependidikan, dan tim pengembang madrasah tersebut menjadi forum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan madrasah yang digdaya, berdaya saing global, dan berintegritas.
Hartiningsih, S.Pd, M.Pd, Kepala MAN 2 Yogyakarta menegaskan bahwa rapat kerja bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan ruang kolaboratif untuk menyatukan visi, mengevaluasi capaian, serta merumuskan langkah-langkah strategis yang relevan dengan perkembangan pendidikan di era global.
“Rapat kerja ini menjadi momentum strategis untuk melakukan evaluasi, refleksi, dan perencanaan secara matang. Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan perubahan zaman yang begitu cepat, madrasah harus mampu tampil sebagai lembaga pendidikan yang unggul, adaptif, inovatif, berdaya saing, dan tetap menjunjung tinggi integritas,” ujarnya.
Sebagai bagian dari proses penyusunan program kerja, panitia membentuk delapan komisi yang membahas berbagai bidang pengembangan madrasah, mulai dari kurikulum, kesiswaan, humas, sarana prasarana, penguatan karakter, tata kelola kelembagaan, hingga pengembangan prestasi dan kemitraan. Setiap komisi melakukan evaluasi terhadap program yang telah berjalan sekaligus merumuskan rekomendasi untuk peningkatan kualitas layanan pendidikan.
Hasil pembahasan komisi kemudian dirumuskan menjadi program jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang yang akan menjadi peta jalan pengembangan MAN 2 Yogyakarta. Program-program tersebut diarahkan untuk memperkuat kualitas akademik, pengembangan karakter peserta didik, transformasi digital, budaya mutu, serta peningkatan daya saing madrasah di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam sesi penguatan wawasan, peserta rapat kerja mendapatkan materi dari sejumlah narasumber yang kompeten di bidangnya. Materi pertama bertajuk Cetak Prestasi Unggul Dunia disampaikan oleh Hj. Anita Isdarmini, S.Pd., M.Hum, Kepala Tim Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dalam paparannya, Anita menegaskan bahwa kualitas madrasah tidak dibangun secara instan, melainkan melalui proses yang terencana dan berkelanjutan. Menurutnya, terdapat enam fondasi utama dalam membangun kualitas madrasah. Pertama, membangun hati sebagai pusat nilai, integritas, dan keteladanan seluruh warga madrasah. Kedua, membangun tim yang solid karena keberhasilan lembaga tidak ditentukan oleh individu, tetapi oleh kekuatan kolaborasi dan sinergi. Ketiga, membangun sistem yang kuat agar seluruh program berjalan terukur, berkelanjutan, dan tidak bergantung pada figur tertentu.
Selain itu, madrasah juga harus membangun komitmen bersama dalam menjalankan visi dan misi lembaga, membangun budaya mutu yang menjadi kebiasaan dalam setiap aktivitas pendidikan, serta membangun jejaring yang luas dengan berbagai pihak untuk memperkuat inovasi dan daya saing. Menurut Anita, enam fondasi tersebut menjadi kunci lahirnya madrasah yang mampu mencetak prestasi unggul hingga tingkat dunia sekaligus tetap menjaga karakter dan nilai-nilai keislaman sebagai identitas utama lembaga pendidikan Islam.
“Prestasi unggul dunia tidak lahir secara kebetulan. Ia dibangun dari hati yang kuat, tim yang solid, sistem yang berjalan baik, komitmen yang terjaga, budaya mutu yang mengakar, dan jejaring yang terus diperluas,” ungkapnya.
Materi kedua bertema Madrasah Unggul dengan Layanan Prima disampaikan oleh Dr. Hj. Nurul Kamilati, M.Pd., M.Ed., Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Semarang. Ia menjelaskan bahwa madrasah unggul adalah madrasah yang berhasil mengintegrasikan mutu akademik, keluhuran nilai dan karakter, serta tata kelola pelayanan publik yang prima sehingga mampu melampaui standar nasional dan menjadi pilihan utama masyarakat.
Menurutnya, keunggulan bukanlah kondisi yang statis, melainkan proses transformasi yang dinamis dan harus terus diperjuangkan secara berkelanjutan. Pintu gerbang utama untuk menunjukkan bahwa sebuah madrasah telah unggul terletak pada kualitas pelayanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat setiap hari.
“Madrasah unggul bukan hanya tentang prestasi, tetapi bagaimana masyarakat merasakan kualitas layanan yang diberikan. Keunggulan harus hadir dalam setiap interaksi, setiap layanan, dan setiap kebijakan yang dijalankan,” jelasnya.
Nurul memaparkan bahwa madrasah unggul dan kompetitif memiliki sejumlah karakteristik utama, yakni adaptif terhadap perkembangan teknologi, menerapkan kurikulum berbasis output dan penguatan karakter, memiliki kepemimpinan yang transformatif, serta membangun budaya mutu yang terukur melalui indikator kinerja yang jelas.
Selain itu, ia menekankan pentingnya memangkas birokrasi yang berbelit agar pelayanan menjadi lebih cepat, efektif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Madrasah juga dituntut menjadi lembaga yang responsif, adaptif, serta mampu menggerakkan perubahan positif di lingkungan pendidikan. Evaluasi program tidak cukup berhenti pada aspek administratif, tetapi harus berorientasi pada dampak nyata yang dirasakan peserta didik, orang tua, dan masyarakat.
“Monitoring dan evaluasi harus berbasis dampak nyata. Ukuran keberhasilan bukan hanya laporan kegiatan, tetapi perubahan yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat dan peningkatan kualitas layanan pendidikan,” tegasnya.
Sementara itu, materi ketiga mengenai Lingkungan Sehat, Bersih, Indah, dan Produktif disampaikan oleh Erny Sonya Pontoh, S.T., M.T., Kepala Balai Pengelolaan Air Limbah dan Pengembangan Jasa Konstruksi DIY. Dalam paparannya, ia mengajak seluruh warga madrasah untuk membangun lingkungan belajar yang sehat dan berkelanjutan melalui pengelolaan lingkungan yang baik, budaya hidup bersih, serta pemanfaatan ruang pendidikan yang produktif.
Menurut Erny, lingkungan yang nyaman dan sehat memiliki kontribusi besar terhadap peningkatan kualitas pembelajaran serta kesejahteraan seluruh warga sekolah. Oleh karena itu, aspek lingkungan harus menjadi bagian integral dalam pengembangan madrasah modern yang unggul dan berkelanjutan.
Pada kesempatan tersebut, pimpinan madrasah juga menyampaikan capaian prestasi MAN 2 Yogyakarta sepanjang tahun 2025 yang berhasil meraih 439 prestasi pada tingkat daerah, nasional, hingga internasional. Capaian tersebut menjadi bukti nyata keberhasilan berbagai program pembinaan yang selama ini dijalankan.
Meski demikian, MAN 2 Yogyakarta tidak ingin berpuas diri. Pada tahun 2026, madrasah menargetkan capaian yang lebih tinggi, termasuk mendorong peserta didik menembus babak final berbagai kompetisi nasional dan internasional, khususnya di bidang coding dan teknologi digital.
Selaras dengan visi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam dan Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY yang mengusung pendidikan maju, bermutu, dan mendunia, berbagai rekomendasi yang dihasilkan dalam rapat kerja diharapkan mampu memperkuat layanan pendidikan yang berkualitas serta mempercepat transformasi MAN 2 Yogyakarta sebagai madrasah unggul yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Rangkaian rapat kerja akan ditutup dengan sidang pleno pada 29–30 Juni 2026. Dalam forum tersebut, seluruh hasil pembahasan komisi akan disahkan menjadi rekomendasi dan program kerja resmi yang menjadi pedoman pelaksanaan kegiatan madrasah pada tahun mendatang.
Dengan semangat kebersamaan, inovasi, dan kolaborasi, MAN 2 Yogyakarta optimistis mampu melangkah lebih maju sebagai madrasah yang tidak hanya melahirkan generasi berprestasi, tetapi juga generasi berkarakter, berintegritas, dan siap berkontribusi bagi Indonesia serta dunia. (pusp)
Berikan Komentar