Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Program STARLing (Science, Technology, and Research Learning) MAN 2 Yogyakarta kembali menegaskan komitmennya dalam pembelajaran berbasis riset melalui kunjungan ilmiah ke kawasan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Playen, Gunungkidul, Kamis (5/2/2025). Kegiatan yang merupakan bagian dari Kajian Ekoteologi, Riset, dan Wirausaha ini resmi dimulai pukul 09.00 WIB dan diterima oleh pranata humas BRIN.
Dalam
kunjungan, rombongan di terima pranata humas BRIN, Nana Hidayat dan Edy Kusnadi,
ke laboratorium dan pilot plant Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP)
BRIN. Para murid program STARLing terlibat aktif dalam dialog ilmiah dengan
peneliti, Diah Ayu Puspita dan Dwi, Mereka menggali proses riset pengolahan
pangan, termasuk teknologi pengalengan pangan tradisional tanpa pengawet
sintetis, serta mendiskusikan isu mutakhir mulai dari bioteknologi tanaman,
keamanan hayati, hingga pengemasan cerdas dan ramah lingkungan.
Diskusi
berkembang pada pemanfaatan teknologi penyuntingan gen untuk menghasilkan
tanaman pangan tahan hama dan toleran salinitas, sekaligus mekanisme biosafety
yang diterapkan BRIN sebelum inovasi dilepas ke masyarakat. Isu etika riset dan
keberlanjutan menjadi benang merah diskusi, selaras dengan spirit ekoteologi
yang menempatkan ilmu pengetahuan dalam bingkai tanggung jawab ekologis.
Aspek
pengemasan juga menjadi perhatian murid STARLing, khususnya alternatif
pengurangan sampah plastik melalui edible coating berbasis bahan lokal,
pengembangan kemasan yang dapat terurai di laut, serta intelligent packaging
dengan indikator warna sebagai sistem peringatan dini kerusakan pangan. Letak
Gunungkidul yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia turut memperkaya
bahasan riset kelautan dan peluang hilirisasi komoditas pesisir bernilai
tambah.
Dari
sisi pelaksanaan, kegiatan STARLing berada di bawah koordinasi Nur Suciowati, sebagai
penanggung jawab kegiatan. Untuk memastikan proses belajar lapangan berjalan
terarah, lembar instrumen kegiatan (LJK) disiapkan oleh Nurul Zulaikha, bersama
Indra Ristanta. Instrumen ini memandu murid melakukan observasi, analisis, dan
refleksi kritis atas temuan riset di lapangan. Kegiatan juga didampingi oleh
guru Srimarlina dan Firda Nandara, yang memperkuat proses pendampingan
akademik.
Kepala
MAN 2 Yogyakarta, Hartiningsih, S.Pd., M.Pd. menyampaikan harapan agar
pengalaman STARLing di BRIN ini menjadi penguat budaya riset murid sejak dini.
Ia menegaskan bahwa STARLing dirancang sebagai wahana pembelajaran bermakna
yang mengintegrasikan sains, etika, dan kewirausahaan, sehingga murid MAN 2
Yogyakarta siap menjadi generasi pembelajar kritis yang peka terhadap tantangan
lingkungan dan kebutuhan masyarakat global. (pusp)
Berikan Komentar