STARLing MAN 2 Yogyakarta Dalami Sono Budoyo di Jantung Budaya Kota

Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Yogyakarta melaksanakan kegiatan Studi Akademik dan Riset Lingkungan (STARLing) pada Rabu (04/02/2026), sebagai bagian dari implementasi program madrasah bidang kurikulum berbasis pembelajaran kontekstual. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB ini diikuti oleh 47 peserta, terdiri atas 40 murid dan 7 guru pendamping, dengan titik kumpul di Museum Sonobudoyo.

Kunjungan STARLing kali ini difokuskan pada pendalaman kajian budaya Yogyakarta dengan mengangkat konsep “sono budoyo”, yakni ruang hidup tempat budaya disimpan, dipelajari, dan diwariskan secara berkelanjutan. Museum Sonobudoyo dipilih sebagai pusat kajian karena dikenal sebagai salah satu museum kebudayaan terlengkap di Indonesia yang menyimpan ribuan koleksi bernilai sejarah tinggi, seperti wayang, keris, batik, topeng, naskah kuno, serta berbagai artefak etnografi Nusantara. Koleksi tersebut merekam perjalanan panjang peradaban, sistem nilai, serta pemikiran masyarakat Jawa dari masa ke masa.

Melalui pengamatan langsung koleksi dan tata pamer museum, para murid diajak memahami filosofi hidup, nilai estetika, dan pesan moral yang terkandung dalam setiap artefak. Pembelajaran dirancang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga reflektif, sehingga murid mampu memaknai budaya sebagai identitas dan pedoman hidup. Dalam konteks ini, Museum Sonobudoyo diposisikan sebagai laboratorium budaya yang menghadirkan pengalaman belajar autentik di luar ruang kelas.



Rangkaian kegiatan STARLing kemudian dilanjutkan dengan penelusuran kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Di kawasan tersebut, murid mengamati peran ruang publik sebagai simpul sejarah dan pusat interaksi sosial masyarakat kota. Titik Nol Kilometer dipahami sebagai ruang yang merekam perjalanan Yogyakarta dari masa kolonial hingga era modern, sekaligus mencerminkan dinamika budaya urban yang terus berkembang.

Kegiatan ditutup dengan kunjungan ke Masjid Gedhe Kauman, salah satu situs penting dalam sejarah keislaman dan kebudayaan Yogyakarta. Di lokasi ini, murid mempelajari akulturasi nilai-nilai Islam dan tradisi Jawa, serta peran masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat sejak masa awal berdirinya Keraton Yogyakarta.



Para murid mengaku memperoleh pengalaman belajar yang berbeda dan berkesan melalui kegiatan STARLing ini. Seorang murid peserta menuturkan bahwa pembelajaran di Museum Sonobudoyo membuat materi budaya Jawa yang selama ini dipelajari di kelas menjadi lebih nyata. “Melihat langsung wayang, keris, dan naskah kuno membuat kami lebih mudah memahami filosofi serta nilai kehidupan yang diwariskan leluhur. Budaya tidak lagi terasa jauh, tetapi dekat dengan kehidupan kami,” tuturnya.

Kepala MAN 2 Yogyakarta, Hartiningsih, S.Pd, M.Pd menyampaikan harapannya agar kegiatan STARLing menjadi penguat pembelajaran berbasis pengalaman nyata dan riset sederhana. Menurutnya, kunjungan budaya merupakan sarana strategis untuk menanamkan kesadaran murid bahwa warisan budaya bukan sekadar pengetahuan, melainkan nilai hidup yang membentuk karakter. Ia berharap murid MAN 2 Yogyakarta mampu memahami jati diri bangsa serta memiliki sikap kritis dan apresiatif terhadap pelestarian budaya.

Dari sisi pelaksanaan, kegiatan STARLing berada di bawah tanggung jawab Nur Suciowati, S.HI sebagai penanggung jawab kegiatan. Adapun lembar instrumen kegiatan (LJK) disiapkan oleh Nurul Zulaikha, S.Pd bersama Indra Ristanta, M.Pd, sebagai panduan murid dalam melakukan observasi, pencatatan data, dan refleksi hasil kajian budaya di lapangan.

Selama kegiatan berlangsung, para murid juga didampingi oleh guru pendamping, yakni Srimarlina, S.Pd, M.A dan Firda Nandara, S.Pd yang berperan aktif membimbing diskusi, menjaga kedisiplinan, serta mengarahkan murid dalam mengaitkan temuan lapangan dengan materi pembelajaran di kelas.


Dengan dukungan tim pelaksana dan pendamping yang solid, kegiatan STARLing MAN 2 Yogyakarta diharapkan menjadi praktik baik pembelajaran berbasis budaya. Program ini sekaligus menegaskan komitmen madrasah untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan berakar pada kearifan lokal dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, berwawasan kebangsaan, dan peduli terhadap warisan budaya bangsa. (pusp)


Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
wa Chat via WhatsApp