Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Kelompok Studi Riset dan Lingkungan (STARLING) kelas XI MAN 2 Yogyakarta melaksanakan penelitian lapangan di Kedai Thiwul Kukus, Rabu (4/2/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran berbasis riset yang mengulas secara mendalam isu keberlanjutan pangan lokal, keterkaitannya dengan kelestarian lingkungan, serta dampaknya terhadap penguatan ekonomi masyarakat.
Kedai Thiwul Kukus dipilih sebagai objek kajian karena konsistensinya mempertahankan makanan tradisional berbahan dasar singkong, komoditas lokal yang sarat nilai sejarah dan budaya. Dalam kegiatan tersebut, murid STARLING tidak hanya melakukan observasi, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik pembuatan thiwul kukus, mulai dari pengolahan bahan baku, teknik pengukusan, hingga penyajian. Proses ini memberi pemahaman konkret tentang bagaimana pangan tradisional diproduksi secara sederhana namun tetap bernilai ekonomi.
Melalui diskusi bersama pemilik usaha, murid menggali informasi mengenai sumber bahan baku, efisiensi proses produksi, serta strategi pemasaran yang diterapkan agar makanan tradisional tetap bertahan di tengah arus modernisasi. Dari hasil pengamatan, murid menemukan bahwa thiwul kukus memiliki keunggulan sebagai pangan alternatif yang relatif lebih sehat, tahan lama, ramah lingkungan, serta menghasilkan limbah produksi yang minimal.
Koordinator STARLING, Nur Suciowati, S.HI., menjelaskan bahwa riset ini bertujuan menumbuhkan kesadaran kritis murid terhadap potensi pangan lokal sebagai solusi berkelanjutan. Menurutnya, singkong dan olahannya tidak hanya penting dari sisi ketahanan pangan, tetapi juga berperan dalam menjaga kemandirian ekonomi masyarakat. “Kami ingin murid melihat pangan lokal sebagai kekuatan masa depan yang mampu menjawab tantangan lingkungan dan ekonomi,” ujarnya.
Selain aspek lingkungan dan ekonomi, kegiatan ini juga mengkaji peran usaha kecil dalam pelestarian budaya kuliner daerah. Murid mencatat bahwa keberadaan Kedai Thiwul Kukus menjadi contoh nyata bagaimana kearifan lokal dapat diolah secara inovatif tanpa meninggalkan nilai tradisi. Temuan ini memperkuat pemahaman murid bahwa pangan lokal dapat menjadi alternatif strategis untuk mengurangi ketergantungan pada bahan pangan impor.
Dari sisi pelaksanaan, kegiatan STARLING berada di bawah koordinasi Nur Suciowati, S.HI., sebagai penanggung jawab kegiatan. Untuk memastikan riset lapangan berjalan sistematis, lembar instrumen kegiatan (LJK) disiapkan oleh Nurul Zulaikha, S.Pd. bersama Indra Ristanta, S.Hum. Instrumen ini dirancang untuk memandu murid melakukan observasi terarah, pencatatan data, hingga refleksi kritis atas temuan di lapangan. Kegiatan juga didampingi oleh guru Srimarlina, M.A. dan Firda Nandara, S.Pd., yang berperan menguatkan proses pendampingan akademik dan diskusi reflektif.
Kepala Madrasah Hartiningsih, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi pelaksanaan riset STARLING tersebut. Ia menilai kegiatan ini sebagai pembelajaran autentik yang mengintegrasikan pengetahuan lingkungan, ekonomi, dan budaya secara utuh. Menurutnya, pengalaman belajar langsung di masyarakat akan membekali murid dengan kepekaan sosial dan kemampuan berpikir kritis yang tidak diperoleh dari pembelajaran teoretis semata.
Melalui penelitian pangan lokal ini, program STARLING MAN 2 Yogyakarta menegaskan perannya sebagai wahana pembentukan generasi pembelajar yang berwawasan riset, berakar pada kearifan lokal, dan berorientasi pada keberlanjutan. Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran bahwa ketahanan pangan nasional dapat dibangun dari potensi lokal yang dikelola secara ilmiah dan inovatif. (pusp)
Berikan Komentar