STARLING MAN 2 Yogyakarta Telusuri Inovasi Garam Rakyat di Tambak Tirta Bahari Tanjungsari


Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Murid kelas XI MAN 2 Yogyakarta melaksanakan Studi Riset Lingkungan (STARLING) di Tambak Garam Tirta Bahari, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Rabu (4/2/2026). Kegiatan ini bertujuan memperdalam pemahaman murid mengenai sejarah, perkembangan, serta inovasi produksi garam rakyat sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual berbasis lingkungan dan kewirausahaan lokal.

Kegiatan STARLING berada di bawah komando Wakil Kepala Urusan Bidang Kehumasan Rita Setyowati, S.Pd., M.Pd., dan dikoordinasikan oleh Nur Suciowati, S.HI. Pelaksanaan kegiatan didampingi oleh guru Nurul Zulaikha, S.Pd.; Srimarlina, S.Pd., M.A.; Firda Nandara, S.Pd.; Indra Ristanta, S.Hum.; serta Dra. Ida Puspita, M.Pd.Si., sehingga proses riset lapangan berjalan terarah dan terpantau secara akademik.

Tambak Garam Tirta Bahari memiliki perjalanan panjang sejak dirintis pada 2013 oleh kelompok KUGAR Tirta Bahari. Pada tahap awal, produksi garam dilakukan secara tradisional melalui pemindahan air laut manual dan proses pengkristalan sederhana. Perkembangan signifikan terjadi pada 2017 dengan diterapkannya teknologi Greenhouse Salt Tunnel, yang memungkinkan pengendalian suhu dan lingkungan tambak secara lebih optimal sehingga kualitas garam meningkat dan produksi lebih stabil.

Inovasi terus berlanjut. Pada 2018, tambak mulai memproduksi garam dapur bermerek Segara Bumi Sepanjang (SBS) yang dipasarkan di wilayah Kapanewon Tanjungsari. Selanjutnya pada 2021, pengelolaan keuangan bertransformasi menjadi berbasis koperasi, membuka ruang partisipasi yang lebih luas dan profesional bagi para anggota. Pada 2022, diversifikasi produk dilakukan melalui pengembangan garam spa bermerek Giri Sewu yang menyasar pasar perawatan tubuh dan kesehatan.

Puncaknya, pada 2023, unit usaha ini resmi bertransformasi menjadi Koperasi Produsen Garam Tirta Bahari, dengan jumlah anggota yang terus bertambah hingga mencapai 22 orang. Transformasi tersebut memperkuat kelembagaan sekaligus meningkatkan daya saing industri garam rakyat di kawasan pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam studi riset tersebut, murid MAN 2 Yogyakarta tidak hanya mempelajari sejarah dan teknologi produksi garam, tetapi juga memperoleh wawasan tentang manajemen usaha berbasis koperasi, pemanfaatan teknologi tepat guna, serta nilai tambah produk turunan garam. Murid berkesempatan mengamati langsung proses pembuatan garam konsumsi SBS hingga inovasi produk garam spa seperti bath bomb yang kini menjadi salah satu unggulan koperasi.

Kepala MAN 2 Yogyakarta, Hartiningsih, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan STARLING tersebut. Ia menegaskan bahwa pembelajaran berbasis riset lapangan menjadi strategi penting dalam menumbuhkan kepekaan murid terhadap isu lingkungan dan potensi ekonomi lokal. Hartiningsih berharap kegiatan ini mampu menginspirasi murid untuk mencintai sumber daya alam daerahnya, berpikir inovatif, serta berani mengambil peran dalam pengembangan industri lokal yang berkelanjutan.

Melalui kegiatan STARLING ini, MAN 2 Yogyakarta menegaskan komitmennya menghadirkan pembelajaran bermakna yang mengintegrasikan sains, lingkungan, dan kewirausahaan. Kegiatan ini diharapkan membekali murid dengan perspektif kritis dan solutif agar kelak mampu menjadi generasi yang berkontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan ketahanan pangan nasional. (pusp)


Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
wa Chat via WhatsApp