Tak Berhenti Belajar, Guru MAN 2 Yogyakarta Kembangkan Bahan Ajar Interaktif Berbasis AI

Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Ketika kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berkembang cepat dan mulai memasuki berbagai sisi kehidupan, dunia pendidikan menghadapi pertanyaan penting: apakah teknologi akan menggantikan peran guru, atau justru memperkuat kemampuan guru dalam mendidik generasi masa depan?

Bagi Dra. Ida Puspita, M.Pd.Si, guru MAN 2 Yogyakarta, jawabannya terletak pada kemauan untuk terus belajar. Teknologi tidak perlu dijauhi, tetapi harus dipahami, digunakan secara etis, dan diarahkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Semangat itulah yang mendorong Ida mengikuti AI Masterclass: Desain Bahan Ajar Interaktif, sebuah kegiatan pengembangan kompetensi yang membekali peserta dengan pemahaman dan keterampilan memanfaatkan AI dalam pengembangan bahan ajar.

Pelatihan menghadirkan materi yang relevan dengan kebutuhan guru di era digital, dengan narasumber Dr. Achmad Zanuar Ansori, Abdul Rahim, dan Rahmadani. Ketiganya membawakan materi yang saling melengkapi, meliputi etika penggunaan AI, pembuatan bahan ajar visual, serta pembuatan bahan ajar cetak.

Materi etika penggunaan AI menjadi fondasi penting dalam pelatihan. Di tengah kemudahan menghasilkan teks, gambar, ide, dan berbagai konten digital, guru perlu memahami bahwa teknologi harus digunakan secara bertanggung jawab. AI bukan alasan untuk mengabaikan proses berpikir kritis, kejujuran akademik, verifikasi informasi, perlindungan data, maupun tanggung jawab terhadap kualitas materi pembelajaran.

Bagi Ida, pemahaman etis tersebut sangat penting karena guru memiliki posisi strategis sebagai teladan. Peserta didik perlu diperkenalkan pada teknologi bukan hanya dari sisi kecanggihannya, tetapi juga dari sisi tanggung jawab penggunaannya.

“AI dapat membantu guru berinovasi, tetapi teknologi tetap harus digunakan secara etis dan bertanggung jawab. Sentuhan kemanusiaan, keteladanan, empati, dan nilai-nilai pendidikan tetap menjadi bagian penting dari peran guru,” ujar Ida.

Pada materi pembuatan bahan ajar visual, peserta mempelajari bagaimana teknologi dapat mendukung penyajian informasi agar lebih menarik, komunikatif, dan mudah dipahami. Visual yang tepat dapat membantu menjelaskan konsep, membangun perhatian peserta didik, serta menciptakan pengalaman belajar yang lebih hidup.

Materi ini menjadi penting karena generasi peserta didik saat ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat visual. Mereka berinteraksi dengan gambar, video, infografik, presentasi digital, dan berbagai bentuk media setiap hari. Karena itu, guru dituntut mampu merancang materi yang tidak hanya benar secara substansi, tetapi juga efektif dalam cara penyajiannya.

Sementara itu, materi pembuatan bahan ajar cetak memperkuat kemampuan peserta dalam menyusun materi pembelajaran yang sistematis, menarik, dan sesuai kebutuhan peserta didik. Kehadiran AI dapat membantu proses pengembangan ide, penyusunan struktur, eksplorasi aktivitas pembelajaran, dan pengayaan materi. Namun, guru tetap memiliki tanggung jawab utama untuk memeriksa akurasi, menyesuaikan konteks, serta memastikan kesesuaian dengan tujuan pembelajaran.

Bagi Ida, pelatihan tersebut membuka perspektif bahwa inovasi pendidikan tidak selalu berarti meninggalkan cara lama dan menggantinya sepenuhnya dengan teknologi baru. Justru yang diperlukan adalah kemampuan menggabungkan teknologi dengan pengalaman pedagogis guru.

Bahan ajar visual dapat memperkuat pemahaman. Bahan ajar cetak tetap penting untuk pembelajaran yang terstruktur. AI dapat mempercepat proses kreatif. Namun, keputusan tentang apa yang perlu dipelajari, bagaimana peserta didik dibimbing, nilai apa yang harus ditanamkan, dan bagaimana perkembangan mereka dipahami tetap membutuhkan peran guru.

Keikutsertaan Ida dalam AI Masterclass mencerminkan perubahan penting dalam wajah pendidikan Indonesia. Di tengah kemajuan teknologi, guru madrasah tidak berdiri sebagai penonton. Mereka ikut belajar, mencoba, mengevaluasi, dan mencari cara terbaik agar teknologi benar-benar memberi manfaat bagi peserta didik.

Semangat belajar sepanjang hayat menjadi pesan kuat dari langkah tersebut. Seorang guru yang telah memiliki pengalaman dan jenjang profesional tetap membutuhkan ruang untuk memperbarui pengetahuan. Sebab perubahan zaman tidak menunggu, sementara peserta didik datang ke ruang kelas dengan kebutuhan, kebiasaan, dan tantangan yang terus berkembang.

Dari MAN 2 Yogyakarta, Ida menunjukkan bahwa transformasi pendidikan dapat dimulai dari kesediaan seorang guru untuk kembali menjadi pembelajar.

Teknologi boleh berubah dengan cepat. Platform dapat berganti. Kecerdasan buatan akan terus berkembang. Namun satu hal tetap menjadi inti pendidikan: guru yang mau belajar, berani berinovasi, dan tetap menjaga nilai kemanusiaan dalam setiap proses pembelajaran. (pusp)


Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
wa Chat via WhatsApp