Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) – Perjalanan menuju kesuksesan tidak selalu berjalan cepat dan mudah. Ada perjuangan panjang, pengorbanan, serta dukungan dari orang-orang yang hadir dalam kehidupan. Nilai inilah yang ditemukan Taqy Dheeaulhaq, siswa kelas XI E MAN 2 Yogyakarta, saat membaca novel Selamat Tinggal karya Tere Liye dalam program Baca Balik Cerita (Calita) di Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta, Jumat (09/10/2026), pukul 10.00 WIB, bersama pustakawan Nuryanti, A.Md.
Novel tersebut
menghadirkan kisah perjuangan Sintong, seorang mahasiswa yang menjalani kuliah
sambil berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Perjalanan pendidikannya
tidak berlangsung singkat. Ia membutuhkan waktu hingga tujuh tahun untuk
menyelesaikan kuliah, melewati berbagai tantangan yang menguji ketekunan dan
kesabarannya. Kehadiran seseorang yang ditemuinya dalam perjalanan hidup turut
memberikan semangat bagi Sintong untuk terus melangkah hingga berhasil
menyelesaikan pendidikannya.
Bagi Taqy, kisah
tersebut menjadi bacaan yang menyenangkan sekaligus menghadirkan gambaran
tentang arti perjuangan dalam meraih cita-cita. Perjalanan Sintong menunjukkan
bahwa keterbatasan dan panjangnya proses bukan alasan untuk berhenti berusaha.
“Saya merasa
senang membaca novel ini karena kisah perjuangan Sintong memberikan gambaran
bahwa untuk mencapai tujuan, kita perlu terus berusaha dan tidak mudah
menyerah,” ungkap Taqy.
Nuryantimengaku
senang dan ikut bersemangat ketika mendengar pengalaman membaca Taqy. Menurutnya,
kisah dalam sebuah novel dapat menjadi sumber motivasi bagi siswa untuk
menghargai proses, tetap tekun dalam belajar, dan berani menghadapi tantangan.
“Saya senang
ketika siswa menemukan inspirasi dari buku yang dibacanya. Kisah perjuangan
seperti ini mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki proses dan waktunya
masing-masing. Yang penting adalah tetap berusaha, menjaga semangat, dan tidak
mudah menyerah dalam meraih cita-cita,” tutur Nuryanti.
Melalui program
Baca Balik Cerita (Calita), Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta terus mendorong siswa
untuk membangun kebiasaan membaca sekaligus membagikan pengalaman dan pelajaran
dari buku yang mereka baca. Program ini menjadi ruang bagi peserta didik untuk
mengembangkan kemampuan memahami bacaan, mengungkapkan gagasan, serta mengambil
nilai-nilai positif dari karya sastra.
Kisah Sintong
menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh seberapa
cepat seseorang mencapai tujuan, tetapi juga oleh ketekunan dalam menjalani
setiap proses. Melalui Calita, buku tidak sekadar dibaca, tetapi juga
dihidupkan kembali melalui cerita dan inspirasi yang dibagikan kepada sesama.
(nur)
Berikan Komentar