Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) – Lampu panggung perlahan menyala, sementara
tirai membuka jalan bagi sebuah kisah yang telah lama hidup dalam ingatan
bangsa. Sabtu (22/08/2026), di atas panggung Teater Artmadja MAN 2 Yogyakarta,
sosok Ki Hadjar Dewantara kembali hadir melalui suara, gerak, dan penghayatan
para siswa yang memerankannya. Sejarah yang biasanya hadir dalam lembaran buku
pelajaran malam itu terasa begitu dekat, seolah perjuangan sang Bapak
Pendidikan Nasional kembali bernapas di tengah generasi muda.
Pementasan teater yang digawangi oleh OSIS Roudhotul Ulum MAN 2 Yogyakarta
berhasil menghidupkan panggung yang sunyi. Di balik setiap adegan, tersimpan
proses panjang para pemain dan kru yang harus melewati latihan berulang, rasa
lelah, kesalahan, hingga keinginan untuk menyerah sebelum akhirnya kembali
berdiri dan mencoba. Bagi mereka, panggung menjadi ruang belajar untuk memahami
bahwa sebuah karya lahir dari ketekunan, kedisiplinan, dan keberanian
menghadapi proses.
Memerankan Ki Hadjar Dewantara juga membawa tantangan tersendiri bagi para
siswa Artmadja. Mereka tidak hanya dituntut menghafal dialog, tetapi berusaha
memahami pemikiran, keteguhan, dan semangat perjuangan tokoh yang meletakkan
dasar penting bagi pendidikan Indonesia tersebut. Setiap ekspresi dan gerakan
menjadi upaya untuk menyampaikan pesan bahwa perjuangan mencerdaskan kehidupan
bangsa tidak berhenti pada masa lalu, tetapi terus menjadi tanggung jawab
generasi hari ini.
Ada kebahagiaan yang sulit disembunyikan ketika seluruh rangkaian
pertunjukan akhirnya dapat diselesaikan. Rasa gugup yang sebelumnya memenuhi
dada perlahan berganti menjadi lega ketika tepuk tangan penonton terdengar
setelah adegan terakhir dimainkan. Dari pengalaman tersebut, para siswa
menemukan pelajaran bahwa seni bukan hanya tentang tampil di hadapan banyak
orang, tetapi juga tentang membangun keberanian, kebersamaan, dan kepercayaan
terhadap kemampuan diri.
Ketika tirai kembali tertutup, sosok Ki Hadjar Dewantara mungkin tak lagi
terlihat di atas panggung, tetapi semangatnya diharapkan tetap tinggal dalam
diri para pemain dan penonton. Teater Artmadja MAN 2 Yogyakarta menunjukkan
bahwa sejarah dapat dihidupkan dengan cara yang menyentuh, kreatif, dan relevan
bagi generasi muda. Selama masih ada anak-anak muda yang mau belajar, berkarya,
dan menjaga nilai perjuangan, napas Ki Hadjar Dewantara akan selalu menemukan
ruang untuk hidup kembali.(cio)
Berikan Komentar